https://www.kompas.com/ Anies Apresiasi Klarifikasi dan Permintaan Maaf Menkes Budi Gunadi soal Nilai E Pemprov DKI Kompas.com - 28/05/2021, 17:45 WIB Bagikan: Komentar 10 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) bersama Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman (kiri) dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan usai melihat langsung tes rapid antigen di Km 34 B tol Jakarta-Cikampek, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (19/5/2021). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau screening kesehatan untuk pemudik yang kembali ke wilayah Jakarta. Lihat Foto Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (tengah) bersama Pangdam Jaya Mayjen TNI Dudung Abdurachman (kiri) dan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan usai melihat langsung tes rapid antigen di Km 34 B tol Jakarta-Cikampek, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (19/5/2021). Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau screening kesehatan untuk pemudik yang kembali ke wilayah Jakarta.(ANTARA FOTO/FAKHRI HERMANSYAH) Penulis Singgih Wiryono | Editor Sandro Gatra JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengapresiasi klarifikasi dan permintaan maaf Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin terkait penilaian buruk penanganan Covid-19 di Jakarta. "Kami mengapresiasi klarifikasi Pak Menkes. Pak Menkes paham betul dan sudah terbiasa kerja berbasis sains dan bukti lapangan," kata Anies dalam keterangan tertulis, Jumat (28/5/2021). Anies juga memberikan pujian kepada Budi Gunadi karena merasakan kerja sama yang baik dengan pemerintah pusat terkait penanganan Covid-19. Baca juga: Soal Nilai E untuk Pemprov DKI, Menkes Budi Gunadi Minta Maaf Dia mengatakan, Budi Gunadi merupakan sosok cerdas yang mampu memadukan kerja cepat dan kolaborasi. "Kami merasakan sekali, sejak Pak Menkes menjabat Desember 2020 lalu, kerja bersama kita jadi amat baik. Beliau cerdas, bijak, open minded, cepat sekali bekerjanya, dan selalu mengutamakan kolaborasi," kata dia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers terkait kedatangan vaksin COVID-19 Sinovac setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (18/4/2021). Sebanyak enam juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac yang dibawa dengan pesawat Garuda Indonesia tersebut, selanjutnya dibawa ke Bio Farma Bandung sebelum didistribusikan ke Kota dan Kabupaten di Indonesia. ANTARA/Muhammad Iqbal/aww. Lihat Foto Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers terkait kedatangan vaksin COVID-19 Sinovac setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (18/4/2021). Sebanyak enam juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac yang dibawa dengan pesawat Garuda Indonesia tersebut, selanjutnya dibawa ke Bio Farma Bandung sebelum didistribusikan ke Kota dan Kabupaten di Indonesia. ANTARA/Muhammad Iqbal/aww.(ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL) Di sisi lain, Anies juga menyebut Pemprov DKI Jakarta terbuka untuk berdiskusi dan bekerja sama dalam mengulas indikator risiko. Terima kasih telah membaca Kompas.com. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Diketahui standar risiko merupakan standar baru dari WHO dalam melihat laju penularan pandemi dan respons Daerah pada penanggulangan wabah COVID-19. "Pemprov DKI Jakarta akan dengan senang hati bekerja bersama Kementerian Kesehatan untuk menyusun penilaian situasi risiko secara lebih objektif, kontekstual dan menjadi pendorong bagi seluruh daerah untuk secara serius menuntaskan masalah pandemi ini," ucap Anies. Baca juga: Kemenkes Beri Nilai Jakarta E, Kualitas Pengendalian Pandemi Covid-19 Terendah di Indonesia "Kami berharap, Kementerian dapat mereview kembali cara penghitungan kondisi risiko di situasi wilayah yang mana bukan sebagai penilaian kinerja COVID-19," tambah Anies. Sebelumnya, Budi Gunadi Sadikin meminta maaf terkait informasi Kementerian Kesehatan yang memberikan penilaian penanganan Covid-19 untuk Pemprov DKI Jakarta dengan nilai E. Halaman Selanjutnya Dia mengatakan, informasi yang ramai… Halaman: 1 2 Show All Baca tentang Indonesia Positif Terinfeksi Virus Corona Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Anies Apresiasi Klarifikasi dan Permintaan Maaf Menkes Budi Gunadi soal Nilai E Pemprov DKI", Klik untuk baca: https://megapolitan.kompas.com/read/2021/05/28/17451821/anies-apresiasi-klarifikasi-dan-permintaan-maaf-menkes-budi-gunadi-soal. Penulis : Singgih Wiryono Editor : Sandro Gatra Tertunduk, Sopir Truk Pembunuh 2 Remaja Putri di Kupang: Saya Menyesal, Apa Pun Hukumannya Saya Terima Kompas.com - 28/05/2021, 20:24 WIB Bagikan: Komentar PHOTO:Rekonstruksi kasus pembunuhan remaja putri oleh pelaku sopir truk, yang digelar aparat Polres Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (28/5/2021) Lihat Foto PHOTO:Rekonstruksi kasus pembunuhan remaja putri oleh pelaku sopir truk, yang digelar aparat Polres Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (28/5/2021)(KOMPAS.COM/SIGIRANUS MARUTHO BERE) Penulis Kontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere | Editor Pythag Kurniati KUPANG, KOMPAS.com - Yustinus Tanaem alias Tinus (41), sopir truk pembunuh dan pemerkosa dua remaja putri di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku menyesal dengan perbuatannya. Penyesalan Tinus disampaikan saat sejumlah wartawan mewawancarainya usai rekonstruksi kasus yang digelar aparat Polres Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (28/5/2021). Awal ia ditangkap, Yustinus berkelit dan tidak mengakui perbuatannya memerkosa dan membunuh MB (18) dan YAW (19) dalam waktu berbeda di wilayah Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Kini, pria yang berprofesi sebagai sopir truk itu mengakui seluruh perbuatannya. "Saya menyesal. Tapi ini sudah terjadi jadi saya akan hadapi," kata Tinus. Baca juga: Geram, Keluarga Remaja yang Dibunuh dan Diperkosa Sopir Truk: Biadab, Tak Punya Hati Tinus pun pasrah dengan desakan sejumlah pihak hingga aparat yang mungkin akan memrosesnya dengan hukuman mati. Terima kasih telah membaca Kompas.com. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email "Apapun hukuman yang akan diberikan, saya akan terima," kata Tinus. Tinus yang telah memiliki istri dan tiga orang anak itu, yakin kalau penyesalannya tidak akan menghapus hukuman yang akan dijalani. Dia mengatakan, telah memberikan keterangan yang sebenarnya. Selain itu, Tinus juga menerima caci maki dan sikap benci keluarga korban dan masyarakat saat rekonstruksi berlangsung. "Saya baru menyesal setelah kejadian ini," kata Tinus sambil tertunduk. Baca juga: 6 Jam Setelah Menikah, Remaja Putri di Sumenep Meninggal, Sempat Tak Sadarkan Diri Halaman Selanjutnya Sebelumnya diberitakan, polisi berhasil… Halaman: 1 2 Show All Kompas.com Play Lihat Semua Arisan Parapuan Episode 3 Arisan Parapuan Episode 3 Quiz Otomotif Dapatkan Nike Air Jordan Quiz Otomotif Dapatkan Nike Air Jordan Dapatkan E-voucher dan Smartphone! Dapatkan E-voucher dan Smartphone! Bantu kami jadi lebih baik lagi! Bantu kami jadi lebih baik lagi! Teka-Teki Santuy Edisi Istilah Kata Teka-Teki Santuy Edisi Istilah Kata TTS - Teka Teki Santuy Edisi Seputar Alat Musik Tradisional TTS - Teka Teki Santuy Edisi Seputar Alat Musik Tradisional Tag: Kupang Kupang yustinus sopir truk bunuh dan perkosa dua gadis sopir truk bunuh dan perkosa remaja putri di kupang Berita Terkait Pembunuh Gadis yang Ditemukan Membusuk di Hutan Ditangkap, Pelaku Sopir Truk Fakta Pembunuhan Berantai di Kupang, Pelaku Sopir Truk dan Korbannya Para Gadis Muda Geram, Keluarga Remaja yang Dibunuh dan Diperkosa Sopir Truk: Biadab, Tak Punya Hati Cerita Tinus, Sopir Truk yang 5 Kali Perkosa Gadis Muda, 2 di Antaranya Dibunuh, Pelaku Residivis Kasus Pemerkosaan Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tertunduk, Sopir Truk Pembunuh 2 Remaja Putri di Kupang: Saya Menyesal, Apa Pun Hukumannya Saya Terima", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2021/05/28/202437478/tertunduk-sopir-truk-pembunuh-2-remaja-putri-di-kupang-saya-menyesal-apa. Penulis : Kontributor Kupang, Sigiranus Marutho Bere Editor : Pythag Kurniati 2 Lokasi Rapid Test di Medan Digeledah Polisi, Ini Reaksi Bobby Nasution Kompas.com - 28/05/2021, 20:16 WIB Bagikan: Komentar Wali Kota Medan, Bobby Nasution menyebut, fasilitas rapid test drive thru yang digeledah kepolisian seharusnya tetap dibuka. (KOMPAS.com/DANIEL PEKUWALI) Lihat Foto Wali Kota Medan, Bobby Nasution menyebut, fasilitas rapid test drive thru yang digeledah kepolisian seharusnya tetap dibuka. (KOMPAS.com/DANIEL PEKUWALI)(KOMPAS.com/DANIEL PEKUWALI) Penulis Kontributor Medan, Daniel Pekuwali | Editor Abba Gabrillin MEDAN, KOMPAS.com - Wali Kota Medan Bobby Nasution menanggapi penggeledahan yang dilakukan polisi di dua lokasi rapid test antigen drive thru di kawasan Lapangan Merdeka Medan, Sumatera Utara. Bobby mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar garis polisi yang dipasang segera dicopot. Hal tersebut disampaikan Bobby usai menemui Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi bersama Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Rumah Dinas Gubernur di Jalan Jenderal Sudirman Medan, Jumat (28/5/2021). Baca juga: Video Pasien Kritis Diduga Diberi Tabung Oksigen Kosong, Ini Klarifikasi RS Pirngadi Medan Bobby mengatakan, lokasi tersebut seharusnya tetap dibuka, karena sangat dibutuhkan masyarakat untuk mengecek kondisi kesehatan mereka. "Ini kita perlu lihat bagaimana cara berlangsungnya yang sebenarnya sangat baik, sangat bagus, karena untuk bisa mempermudah, memperbanyak titik masyarakat bisa mengecek kesehatan mereka. Jadi semakin banyak titik, semakin banyak lokasi semakin bagus," kata Bobby. Baca juga: Kasus Bocah Diikat dan Diseret seperti Hewan Berakhir Setelah Pelaku Minta Maaf Terima kasih telah membaca Kompas.com. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email Bobby mengatakan, untuk masalah legalitas rapid test layanan tanpa turun (lantatur), seharusnya tidak ada masalah. Hanya saja, ada kemungkinan terjadi pelanggaran prosedur dalam penanganan limbah medis yang dihasilkan. Bobby mengakui bahwa Pemkot Medan juga tak ingin kasus penggunaan alat rapid test bekas seperti yang terjadi di Bandara Kualanamu, juga terjadi di Medan. "Tapi dalam berjalannya, kami Pemkot Medan harus juga ketat melihat prosedur-prosedur yang tidak menyalahi, karena kami tidak ingin kejadian seperti di Kualanamu itu terjadi, apalagi di wilayah Kota Medan, harus terus kita cek proses berjalannya itu," kata Bobby. Halaman Selanjutnya Sejauh ini, fasilitas rapid test… Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "2 Lokasi Rapid Test di Medan Digeledah Polisi, Ini Reaksi Bobby Nasution", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2021/05/28/201613578/2-lokasi-rapid-test-di-medan-digeledah-polisi-ini-reaksi-bobby-nasution. Penulis : Kontributor Medan, Daniel Pekuwali Editor : Abba Gabrillin Longgarnya Aktivitas Warga Jadi Pemicu Kluster Permukiman di DIY Aktivitas masyarakat yang longgar dan tak menerapkan protokol kesehatan dinilai menjadi pemicu kluster Covid-19 di wilayah permukiman di DIY. Fasilitas kesehatan di DIY harus disiapkan mengantisipasi lonjakan pasien. Oleh HARIS FIRDAUS 28 Mei 2021 09:16 WIB · 1 menit baca KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Petugas melakukan tes antigen terhadap sejumlah penumpang kendaraan di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta-Jawa Tengah di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (18/5/2021). Kegiatan penyekatan beserta tes antigen itu dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 akibat pergerakan pemudik dan warga. YOGYAKARTA, KOMPAS — Aktivitas masyarakat yang longgar dan tak disertai penerapan protokol kesehatan dinilai memicu munculnya sejumlah kluster penularan Covid-19 di wilayah permukiman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fasilitas kesehatan mesti disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan pasien yang membutuhkan perawatan. Epidemiolog Universitas Gadjah Mada, Riris Andono Ahmad, mengatakan, aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini lebih longgar daripada kondisi tahun lalu. Padahal, situasi penularan Covid-19 saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi Ramadhan dan Idul Fitri tahun lalu. Longgarnya Aktivitas Warga Jadi Pemicu Kluster Permukiman di DIY Aktivitas masyarakat yang longgar dan tak menerapkan protokol kesehatan dinilai menjadi pemicu kluster Covid-19 di wilayah permukiman di DIY. Fasilitas kesehatan di DIY harus disiapkan mengantisipasi lonjakan pasien. Oleh HARIS FIRDAUS 28 Mei 2021 09:16 WIB · 1 menit baca KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Petugas melakukan tes antigen terhadap sejumlah penumpang kendaraan di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta-Jawa Tengah di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (18/5/2021). Kegiatan penyekatan beserta tes antigen itu dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 akibat pergerakan pemudik dan warga. YOGYAKARTA, KOMPAS — Aktivitas masyarakat yang longgar dan tak disertai penerapan protokol kesehatan dinilai memicu munculnya sejumlah kluster penularan Covid-19 di wilayah permukiman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Fasilitas kesehatan mesti disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan pasien yang membutuhkan perawatan. Epidemiolog Universitas Gadjah Mada, Riris Andono Ahmad, mengatakan, aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini lebih longgar daripada kondisi tahun lalu. Padahal, situasi penularan Covid-19 saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi Ramadhan dan Idul Fitri tahun lalu.